T-Shirt Hack
Kaos adalah salah satu jenis pakaian yang bisa dipakai oleh semua kalangan. Tua, muda, kecil, besar, cocok memakai kaos karena nyaman dan tidak ribet. Tak hanya itu saja, kaos juga gampang dimodifikasi. Dipotong, dijahit, dilipat, semuanya bisa, atau dengan kata lain, kaos gampang sekali untuk di-hack.
Berikut ini salah satu cara nge-hack kaos yang mungkin bisa jadi inspirasi buat kamu :
1. Ambil kaos yang ukurannya cukup besar serta kaos yang ukurannya fit dengan badan kamu sebagai polanya.
2. Letakkan dua kaos tersebut di atas bidang datar, kemudian sematkan jarum agar tidak keduanya tidak bergerak.
3. Potong sedikit di bagian lengan
4. potong membentuk setengah lingkaran pada bagian bahu
5. Rapikan sisa potongan kamu
Hanya dalam beberapa langkah saja, kaos kamu menjadi tampak beda. Selamat mencoba!
sumber:
Iron Man 3 : Akhir yang Manis
Apa yang terlintas di pikiran kamu ketika mendengar kata “Iron man”? superhero yang ceroboh dan sering cidera karena ulahnya sendiri, filmnya yang kocak, atau Robert Downey Jr yang hot si pemeran utamanya? Kalau saya sih tiga-tiganya.. hehehe! Setelah sempat batal 2x karena kehabisan tiket, akhirnya tanggal satu kemaren saya nonton juga film Iron Man 3. Berikut ini ceritanya.
Saya sempat kaget ketika masuk bioskop. Hampir separuh dari penonton adalah anak-anak. Terus terang saya agak kurang nyaman dengan keadaan ini, karena selain bikin gaduh, menurut saya Iron Man 3 bukanlah tontonan untuk anak-anak karena di dalamnya pasti akan ada adegan perkelahian, tembak-menembak dan adegan romantis yang sungguh tidak baik bagi mereka. Jadi buat para orang tua, sebaiknya anda berpikir 1000x sebelum mengajak anak anda menonton sebuah film.
Film dimulai dengan cerita kilas balik Tony Stark pada tahun 1999, tepatnya saat perayaan malam tahun baru. Pertemuannya dengan Aldrich Killian dan kisah cintanya bersama Maya Hansen pada saat itu, tanpa diduga-duga menyebabkan timbulnya masalah baru di masa sekarang. Maya Hansen adalah seorang-bisa dibilang-ilmuwan yang sedang melakukan uji coba Extremis, yaitu pengobatan regeneratif yang dimaksudkan untuk pemulihan dari cidera/kelumpuhan. Sedangkan Aldrich Killian adalah ilmuwan lain yang menawarkan sebuah bentuk kerjasama di perusahaan miliknya, Advanced Idea Mechanics.
Kembali ke masa sekarang, diceritakan bahwa Tony sedang mengalami panic attack, alias gampang panik jika mendengar hal-hal yang mengagetkan dan mengkhawatirkan. Kepanikannya itu membuatnya sering mengalami sesak nafas, dan bahkan tidak bisa tidur selama 72 jam, menghabiskan waktunya untuk bereksperimen, menciptakan belasan “kostum perang”.
Sementara itu di Stark Industries, Pepper Potts yang diperankan secara apik oleh Gwyneth Paltrow kedatangan seorang tamu tak diduga yang membuatnya kaget sekaligus sedikit bernostalgia dengan kisah masa lalu. Namun Potts tak pernah mengira bahwa tamu ini akan menjadi seseorang yang sangat berperan dalam kehancuran Iron Man yang akan diceritakan di sepanjang film.
Keberadaan seorang teroris bernama mandarin yang mengancam pertahanan dan keamanan Negara Amerika Serikat turut meramaikan “peperangan” di film Iron Man 3 ini. Mandarin yang bertangan dingin ini menghabisi banyak nyawa, membajak satelit, dan bahkan mengancam sang presiden. Banyak sekali kasus pengeboman yang terjadi yang disebabkan olehnya. Satu hal yang membuat semua orang penasaran adalah tidak ditemukannya serpihan-serpihan bekas bom yang meledak di lokasi kejadian. Hingga pada suatu malam, Happy Hogan, kepala keamanan Stark Industries ikut menjadi korban pengeboman Mandarin dan Stark pun menjadi marah karenanya. Tapi bukan Stark namanya kalau tidak ceroboh. Saat pers menanyai pendapatnya tentang Happy dan kasus bom Mandarin, dia malah menantang mandarin dan memberitahukan lewat media untuk datang sendiri ke rumahnya, dengan memberitahukan alamat lengkap pula! Apa yang terjadi selanjutnya, bisa tertebak ya? Hahaha..
Pertempuran melawan Mandarin ini mempertemukannya dengan Harley, bocah kecil berusia 10 tahun yang ikut membantunya. Dan hey, tahukah anda, beberapa adegan bersama anak kecil tersebut mengingatkan saya pada film Real Steel, hehehe!
Banyak yang bilang kalau film Iron Man 3 ini lebih “manusiawi” dibanding Iron man yang sebelum-sebelumnya. Hmmm.. kalau menurut saya sih memang Iron Man lebih manusiawi dibanding superhero lain yang serba sempurna. Dan akhir dari film ini sungguh manis, meskipun ada sedikit rasa kecewa karena (katanya) tak akan ada lagi film Iron Man selanjutnya, tapi who knows, siapa tau nanti akan diproduksi lagi film edisi reunionnya hahaha.. *ngarep*
Secara keseluruhan, film Iron Man 3 ini bagus banget. Ceritanya dapet, animasi dan efeknya dapet, komedi juga dapet. Lengkap pokoknya! Hanya saja ada satu yang mengganjal yaitu kisah dibalik aksi terorisme Mandarin yang dibuat “gitu tok”. Tapi untungnya tidak merusak keseluruhan cerita. Pelajaran yang dapat kita ambil dari film ini yaitu agar kita selalu berbuat baik kepada siapapun dan kapanpun, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan orang lain kepada kita di masa datang. Jangan sampai perbuatan kita yang menyakiti hati orang lain di masa sekarang membuahkan dendam yang akan dibalaskan di masa datang. Selamat menonton!
Mengubah Kaos Menjadi Tank Top
Cuaca yang panas seperti sekarang ini membuat kita merasa gerah setiap saat. Paling enak ya pakai Tank Top atau kaos tanpa lengan yang adem. Tapi kalau kamu bosan memakai tank-top di lemari yang cuma itu-itu aja, mungkin ide untuk mengubah kaos menjadi tank top di bawah ini bisa kamu coba
Langkah-langkah memotong kaos menjadi tank top:
Ambil satu tank top di lemari kamu untuk dijadikan contoh. Tapi pastikan ukurannya sesuai dengan yang kamu inginkan ya..
Pilih kaos yang akan kamu potong.
Baliklah kaos tersebut agar jahitan terlihat jelas.
Setrika kaosmu agar tidak kusut dan bisa mengukur secara akurat
Letakkan tank top di atas kaos yang akan dipotong, sesuaikan ukurannya, dan pastikan kamu meletakkan kedua kaos yang telah ditumpuk itu di atas bidang yang datar dan rata seperti meja.
Gunakan jarum di sepanjang tepi tanktop dan kaos agar tidak bergerak
Potong bagian lengan kaos sebelah kiri dan kanan mengikuti bentuk tanktop. Jangan lupa untuk memberikan sisa setengah inci pada masing-masing potongan agar bisa dijahit.
Rapikan bekas guntingan dan sesuaikan dengan keinginan kamu.
9.Jahit di beberapa bagian yang diperlukan seperti bagian lengan, bisa dijahit menggunakan tangan, dan bisa menggunakan mesin jahit untuk hasil yang tahan lama
Selamat mencoba!
sumber:
REVIEW : LES MISERABLES
“To love another person is to see the face of God.” – Jean Valjean
Satu hal yang ingin saya sampaikan sebelum Anda memutuskan untuk menukar Rupiah dengan selembar tiket bioskop demi menyaksikan Les Miserables, apa yang hendak Anda simak adalah sebuah film musikal. Bukan musikal biasa dimana beberapa tokoh yang semula beradu dialog tiba-tiba tanpa diberi komando mendendangkan sebuah tembang seraya menggoyangkan tubuh bersama sejumlah penari latar. Bukan. Sang sutradara yang baru saja menggondol Oscar melalui The King’s Speech, Tom Hooper, membawanya ke ranah musikal murni. Itu artinya, nyaris seluruh dialog dalam film dituturkan kepada audiens dalam bentuk nyanyian. Apabila Anda antipati terhadap genre ini, maka menikmati Les Miserables di layar lebar bisa jadi merupakan sebuah siksaan. Sebaliknya, jika Anda tergolong penonton yang menggemari tontonan musikal atau terbuka terhadap semua genre, maka Les Miserables merupakan sebuah film yang keindahannya sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Saking luar biasanya – Oh, Anda boleh mengatakan saya adalah reviewer terlebay sedunia, haha – saya bahkan memberikan sedikit tepuk tangan usai menyimak film ini. Tidak bisa secara meriah lantaran ya… menghormati penonton di sekitar saya yang sepertinya tertipu.
Les Miserables beranjak dari sebuah novel Sastra Prancis klasik karangan Victor Hugo yang pertama kali terbit pada 1862. Semenjak itu, berbagai versi adaptasi menyertainya, baik itu film panjang, miniseri, pertunjukkan musikal, maupun drama radio. Ketika versi lainnya mengacu kepada novel dengan kesetiaan penuh maupun rombak sana sini demi penyesuaian, maka Tom Hooper justru berpijak kepada pertunjukkan musikalnya yang telah berkali-kali dipentaskan sejak dekade 80-an sehingga menyandang gelar ‘one of the longest running musicals ever’. Alih-alih menyesuaikan dengan format barunya, Hooper justru tetap patuh kepada ‘musical play’-nya dengan alasan lebih efektif dalam bertutur. Bahkan demi mempertahankan cita rasa otentik, sang penulis skrip, William Nicholson, turut ditemani oleh tiga penulis dari versi musikalnya, Alan Boubil, Claude-Michel Schonberg, dan Herbert Kretzmer. Maka, dengan keputusan untuk setia sepenuhnya terhadap pertunjukkan musikalnya, seperti yang telah saya jabarkan di paragraf pembuka, dialog dalam film pun menganut ‘sung-through’ sesuai dengan sumber pijakannya.
Yang menjadi tokoh utama di sini adalah Jean Valjean (Hugh Jackman) yang baru saja mengakhiri masa tahanannya selama 19 tahun setelah kedapatan mencuri sepotong roti demi memberi makan keponakannya. Usai mencium udara kebebasan, Jean Valjean tak sepenuhnya lepas dari tanggungan. Dia kudu lapor kepada polisi pengawas, Javert (Russell Crowe), secara berkala. Pertemuan Valjean dengan seorang uskup (Colm Wilkinson) membuat dia mangkir dari kewajibannya, menghilang, dan memutuskan untuk memulai kehidupan baru. 8 tahun berselang, Valjean yang telah mengubah identitas dirinya hidup tentram di sebuah daerah kecil di Prancis, menjadi walikota, dan memiliki sebuah pabrik. Ketenangannya terusik ketika Javert menampakkan diri di hadapannya. Masa lalunya yang kelam kembali memburunya. Ketika seorang gelandangan mengaku sebagai dirinya, perasaan bersalah Valjean menyeruak sehingga dia pun membongkar identitas aslinya. Resiko yang kudu ditanggung, Javert berambisi untuk meringkusnya dan Valjean pun menghabiskan sisa hidupnya dalam pelarian. Sementara itu, kita pun berkenalan dengan Fantine (Anne Hathaway), salah satu pekerja di pabrik Valjean, yang beralih profesi sebagai pelacur jalanan demi mengirim uang untuk biaya hidup putrinya, Cosette (Isabelle Allen). Fantine tidak berhasil bertahan setelah mengalami penyiksaan dari seorang pria. Meninggalnya Fantine membuat Valjean merasa bertanggung jawab dan memutuskan untuk merawat Cosette dalam pelarian hingga tumbuh sebagai gadis cantik (Amanda Seyfried).
Pada awalnya, membayangkan duduk di dalam gedung bioskop selama 158 menit demi menyaksikan sebuah film yang nyaris seluruhnya dilagukan terasa melelahkan. Akan tetapi setelah saya menjajalnya langsung, ternyata ketakutan itu tak terbukti. Tom Hooper berhasil memaparkan skrip garapan empat penulis secara keroyokan dengan sangat baik. Dengan durasi yang memanjang hingga hampir mencapai 3 jam, tidak sekalipun saya menemukan momen yang menjemukan. Jalinan kisahnya dirajut dengan sangat cantik dan sempurna sehingga sanggup membuat penonton tetap betah untuk mencari tahu apa yang akan terjadi berikutnya, tokoh mana yang akan menemukan pembebasannya, dan tokoh mana yang akan mengakhiri jalannya dengan tragis. Memang, kisah ini telah berulang kali diceritakan ulang dengan berbagai cara penyampaian, namun dengan keputusan Hooper untuk menyajikannya dalam bentuk musikal utuh membuat Les Miserables serasa diberi suntikkan nyawa baru yang menjadikannya tetap menarik untuk diikuti terlebih dengan dukungan jajaran pemainnya yang bermain mempesona, khususnya Hugh Jackman dan Anne Hathaway. Mereka berdua sukses menyeimbangkan kemampuan olah vokal dengan berakting dengan rapi, penuh penghayatan, memberikan banyak energi serta emosi. Saya sama sekali tidak akan terkejut jika bulan depan juri Oscar memutuskan untuk memenangkan Hathaway di kategori ‘Best Supporting Actress’. Jika Jennifer Hudson saja mampu membuat juri terpukau melalui Dreamgirls, kenapa Hathaway tidak? I Dreamed a Dream jelas sebuah ‘showstopper’. Rendisinya terhadap lagu ini sungguh mempesona. Saya dibuat merinding disko kala menyaksikannya
Ya… barisan track yang terkandung di dalam film ini memang merupakan amunisi utama terlebih dengan absennya dialog konvensional. Kemasan musikalitasnya mungkin tak sempurna dan terdengar kasar lantaran diterapkan ‘live recording’ alih-alih lipsync, akan tetapi di bawah penanganan Hooper, kelemahan ini mampu hadir sebagai kekuatan. Dengan cara ini, emosi yang hendak diutarakan oleh pemain dapat lebih mengena dan membekas. I Dreamed a Dream boleh jadi merupakan yang paling memukau diantara lagu lainnya, akan tetapi sekitar 40 lagu lain yang hadir pun tetap kuat, termasuk satu lagu asli yang khusus diciptakan untuk film ini berjudul Suddenly. Seluruh emosi, baik cinta, kecewa, marah, lelah, hingga putus asa dituangkan ke dalam gelaran lagu yang menghiasi sepanjang film. Bulu kuduk ini seketika berdiri mendengarkan setiap tembang yang dibawakan dengan penuh penghayatan sekaligus emosi. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar larut ke dalam setiap lagu yang hadir di sebuah film musikal. Keputusan untuk memanfaatkan ‘sung-through’ dan ‘live recording’ memang penuh resiko, namun hasil yang didapat sangat sepadan.
Melongok ke sisi teknis, Les Miserables pun tergarap detil. Tata produksinya sangat luar biasa, menciptakan kesan megah serta kolosal. Sinematografi arahan peraih nominasi Oscar, Danny Cohen, berpadu dengan sempurna bersama tata artistiknya, tata kostum, hingga tata rias. Perpindahan latar tempat dan waktu serta perubahan fisik tiap tokohnya dilukiskan dengan apik nan believable. Film ini pun pada akhirnya tidak hanya memanjakan telinga para penikmatnya, tetapi juga mata dari setiap penonton dengan melihat bidikan gambar yang tertata cantik. Kecermatan departemen artistik dalam menata set membuat penonton percaya bahwa apa yang tersaji di layar adalah Prancis di tahun 1800-an. Tata kostum tidak perlu diragukan lagi untuk sebuah costume drama semacam ini, tampil mengagumkan. Sementara untuk tata riasnya yang dikomandoi langsung oleh Lisa Westcott, setidaknya patut mendapat pujian dalam usahanya memermak wajah Hugh Jackman yang bertransformasi dari seorang tahanan dengan penampilan yang kucel dan berantakan menjadi bagian dari kalangan terhormat dengan dandanan yang rapi hingga Valjean di usia tua.
Keputusan Tom Hooper untuk tetap mempertahankan cita rasa asli pertunjukkan musikalnya di dalam film besutannya ini memang beresiko memecah belah penonton, sebagian akan dibuat kagum dengan kemampuannya menelurkan sebuah pengalaman sinematis yang berbeda sementara sebagian lain akan sangat membencinya. Akan tetapi, apapun pendapat yang diutarakan oleh penonton usai menyimak sajiannya yang fenomenal ini, Tom Hooper telah berhasil menyajikan sebuah hidangan yang unik, berbeda, penuh cita rasa, hangat, menakjubkan, sekaligus sangat cantik. Ini akan menjadi sebuah film yang akan sulit Anda lupakan hingga bertahun-tahun ke depan. Les Miserables adalah pencapaian terbaiknya dalam dunia sinematik. Memindahkan sebuah pertunjukkan musikal yang telah memperoleh status klasik ke medium yang berbeda, dalam hal ini film panjang berdurasi 2 jam 38 menit, bukanlah perkara mudah dan dia sanggup menjalankannya seolah tidak ada kesulitan berarti yang dihadapinya. Dengan jajaran pemain yang mempertontonkan kemampuan olah peran dan olah vokal yang mengagumkan, tata produksi berskala kolosal yang tergarap detil, dan deretan tembang yang dibawakan dengan penuh cinta, maka layaklah sudah Les Miserables dinobatkan sebagai salah satu film musikal terbaik yang pernah ada.
Outstanding
sumber:
Tentang Jaket Varsity
Jaket varsity, atau yang bisa juga disebut jaket letterman, awalnya adalah sebuah jaket tradisional yang dipakai oleh sekolah tinggi dan mahasiswa di Amerika Serikat untuk mewakili sekolah, tim olahraga kebanggan, atau penghargaan pribadi yang diperoleh dalam atletik, akademis, dan kegiatan lain.
Pada tahun 1865, tim baseball Harvard menambahkan huruf ‘H’ pada seragam tim diikuti oleh tim football pada 1875. Pemberian huruf ini awalnya hanya bertujuan sebagai tanda pada seragam tim semata, namun seiring berjalannya waktu, jersey dan atau jaket ‘berhuruf” ini seringkali diberikan sebagai penghargaan kepada pemain yang mempunyai peran penting dalam tim, dan tak jarang, ketika prestasi mereka merosot, jersey dan jaket ini diminta kembali oleh kapten tim untuk diberikan kepada pemain lain. Itulah mengapa jaket varsity ini menjadi suatu barang yang ‘sangat berharga’, ya, karena ada kebanggaan di dalamnya.
Ciri khas dari jaket varsity antara lain yaitu huruf inisial yang terdapat pada bagian dada sebelah kiri dengan font type ‘Old English’, selain itu, warna bagian badan dan bagian lengan biasanya berbeda (meskipun sekarang ini juga banyak yang sewarna). Bagian kerah, cuff, dan hem trimming dari varsity biasanya berpola garis-garis,dan kantong varsity biasanya mempunyai warna yang sama dengan warna bagian lengan.
Sekarang ini jaket varsity sudah bisa ditemukan di banyak tempat, tidak hanya untuk kepentingan sekolah tinggi saja, namun juga untuk kepentingan fashion. Jaket varsity merupakan item fashion yang keren sekaligus sporty dan sering dipakai oleh selebriti terkenal seperti Michael Jackson dan Eddie Murphy.
Sekarang nggak perlu ikutan tim baseball dulu untuk bisa pake jaket yang sporty ini karena kamu bisa dapetin jaket varsity yang keren-keren dari vint8.. yaaayy!
sumber :
theyoulifestyleblog.wordpress.com
REVIEW : DJANGO UNCHAINED
“Django. The D is silent.” – Django
Setelah pengulitan kepala, kebakaran bioskop yang meneror, dan Hitler yang dibunuh lebih dini, kegilaan macam apalagi yang akan hadir dalam film terbaru Quentin Tarantino, Django Unchained? Tentunya, akan tetap ada kesintingan, dan umumnya, akan semakin bertambah parah dari film ke film. Hanya dengan menilik premis – atau lebih panjang lagi, sinopsis – kita telah mengetahui bahwa sutradara dengan IQ mencapai 160 ini masih belum akan ‘bertobat’ dan segera membawa kita ke dunianya yang unik serta sarat akan darah dan kekerasan. Bukan sebuah rahasia lagi jika Quentin Tarantino – atau kita panggil saja, QT – sangat menggemari cult movie, B-movie, serta tentunya spaghetti western. Inilah yang kerap kali menjadi sumber inspirasi di setiap karyanya. Dalam Django Unchained, setelah sebelumnya berlatih terlebih dahulu dalam Inglourious Basterds, sutradara penghasil Pulp Fiction dan dwilogi Kill Bill ini akhirnya resmi menapaki genre western. Tentu bukan QT namanya jika ‘bermain aman’ atau hanya sekadar mengikuti elemen yang telah ditetapkan sebelumnya, berbagai bumbu-bumbu yang menyentak pun ditambahkan guna menambah cita rasa karyanya. Untuk sekali ini, spaghetti western dikawinkan dengan blaxploitation dalam sebuah kisah koboi yang berlangsung di selatan dengan latar masa perbudakan di Amerika. Nah lho!
Memulai kisah di sebuah tempat di Texas pada tahun 1858, penonton segera diperkenalkan kepada Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Kala ditanya mengenai profesi dijalaninya, Dr. Schultz akan senantiasa menjawab bahwa dia adalah seorang dokter gigi – ini sekaligus diperkuat hiasan gigi di atas kereta kuda miliknya. Tapi pada kenyataannya, dia telah ‘pensiun dini’ dan memutuskan untuk beralih profesi sebagai bounty hunter (pemburu bayaran) dengan iming-iming bayaran yang menggiurkan. Demi mencapai target berikutnya yang sama sekali tidak dia ketahui bagaimana tampilan fisiknya, Dr. Schultz meminta bantuan Django. Sebelumnya, dia terlebih dahulu membeli Django dan melepas status budak yang disandangnya. Seiring berjalannya waktu, hubungan diantara mereka berdua pun semakin dekat hingga Dr. Schultz mengangkat Django sebagai rekanannya dalam berburu. Pun demikian, sejatinya Django memiliki misi lain, yakni menemukan istrinya yang terpisah darinya, Broomhilda von Shaft (Kerry Washington). Dalam upayanya untuk membalas budi lantaran telah banyak menerima bantuan, Schultz bersedia untuk menolong Django merebut kembali sang istri yang saat ini dimiliki oleh seorang tuan tanah kejam yang terobsesi dengan pertarungan ‘Mandingo’, Calvin Candie (Leonardo DiCaprio).
Apakah ini adalah semua hidangan yang lezat? Oh dear, percayalah, Django Unchained adalah sebuah mahakarya lainnya dari seorang Quentin Tarantino. Meski bahan dasar serta tampilan luarnya seolah mengisyaratkan bahwa ini adalah sajian ‘kaki lima’ yang sederhana, tapi di bawah penanganan koki QT, sebuah kesederhanaan mampu disulap menjadi sebuah keistimewaan. Tidak ada yang biasa-biasa saja saat sebuah ide cerita keluar dari kepalanya untuk kemudian dituangkan ke dalam bentuk skrip dan diwujudkan dalam bahasa gambar. Coba saja Anda bayangkan, spaghetti western dikombinasikan dengan blaxploitation untuk sebuah kisah koboi yang berlatar d selatan pada era perbudakan? Huh? Seorang koboi berkulit hitam berpasangan dengan seorang pembunuh asal Jerman? Double Huh? Ini akan menjadi sesuatu yang dipergunjingkan serta penuh dengan cibiran apabila ditangani oleh sutradara lain, namun di bawah arahan seorang maestro jenius macam QT? Ini jelas sesuatu yang patut dinanti-nantikan. Menjadi semakin menarik saat sobat kental Robert Rodriguez ini menuturkan bahwa salah satu sumber inspirasinya untuk film ini adalah Django (1966) garapan Sergio Corbucci. Bahkan, sang pemeran Django, Franco Nero, turut tampil cameo.
Django Unchained tentu bukanlah sebuah film western biasa – atau mungkin lebih cocok disebut southern – terlebih dengan adanya plot mengenai perbudakan dan balas dendam di dalamnya. Durasi yang membentang panjang hingga 165 menit pun bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. QT is a master storyteller. Tidak sekalipun ditemukan momen-momen menjemukan yang dapat menyebabkan rasa kantuk yang teramat dahsyat. Justru, di balik tema utama yang mengesankan bahwa ini adalah sebuah film yang susah untuk dicerna, Django Unchained hadir sebagai sebuah sajian yang sangat menghibur. Perjalanan yang berlangsung nyaris mencapai 3 jam sama sekali tidak terasa. Dalam jalinan penceritaan yang sejatinya serba kelam dan mengiris hati, disisipi humor cerdas menggelitik – meski tetap gelap – serta sebuah presentasi yang sangat khas sang sutradara. Kadangkala, kejutan, yang sekalipun terkadang tidak penting, turut dimunculkan demi menjaga mood penonton. Salah satu contoh, dan teramat saya sukai, adalah sebuah keributan tidak penting menjelang penyergapan terhadap Django dan Schultz di malam hari. Perhatikan apa yang mereka permasalahkan, sungguh menggelikan.
Mengingat ini adalah karya dari QT, maka tentu saja darah dan kekerasan tidak boleh terlupakan. Itu adalah bahan dasar terpenting yang haram hukumnya untuk disingkirkan begitu saja. Segala bentuk penyiksaan yang sebelumnya menghantui di Inglourious Basterds, kembali muncul di sini. Untuk sekali ini, tentu saja, yang menjadi korban adalah para budak. Kita melihat mereka dicambuk, dipasung, dilempar ke dalam sebuah kotak, ditandingkan dalam ‘Mandingo Fight’ yang keras nan brutal hingga dijadikan bulan-bulanan anjing. Memang segalanya tidak pernah ditampilkan secara eksplisit, akan tetapi tetap terasa ngilu. Gelaran darah pun mewarnai film ini. Yang menarik, darah ditampilkan dengan cantik, bergaya, dan sangat artistik. Favorit saya adalah Schultz menembak salah satu buruannya hingga darah menciprati bunga-bunga kapas. Oh, itu cantik sekali! Dan sekalipun sebagai sebuah ‘film koboi’ tak banyak adegan tembak-tembakan yang dimunculkan, sekali lagi saya berkata, tak usah risau. Tarantino telah mengompilasinya menjadi sebuah klimaks yang sama menggetarkannya dengan adegan kebakaran bioskop di film sebelumnya. Konfrontasi akhir yang berlangsung di meja makan berakhir menjadi pertumpahan darah. Benar-benar menegangkan.
Saya pun harus memuji departemen akting yang sangat luar biasa dan patut mendapatkan sebuah ‘applause’ yang meriah. Jamie Foxx sebagai Django memang tampil baik, akan tetapi bintang sesungguhnya dari film ini justru datang dari Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, dan Samuel L. Jackson. Khusus untuk Waltz memang tidak mengherankan mengingat peran Dr. King Schultz ditulis oleh QT untuknya sehingga tiada kesulitan berarti dalam memerankannya. Schultz itu Waltz banget! Bagaikan versi protagonis dari Colonel Hans Landa. Sementara DiCaprio dan Jackson, astaga, saya benar-benar membenci mereka. Sangat disayangkan mereka sama sekali tidak mendapatkan cinta dari juri Oscar. Keduanya sanggup tampil sangat menjengkelkan hingga penonton pun berharap mereka segera menemui ajal, terlebih untuk Jackson sebagai Stephen, budak kepercayaan Calvin Candie, yang menyeramkan, mengesalkan namun juga kerap menghadirkan tawa. Jangan lupakan pula cameo dari sang sutradara – dikomentari oleh berbagai rekan saya, “agak gendutan ya si QT” – yang sangat epik. Caranya menghilang dari layar itu lho… tak terlupakan.
Django Unchained adalah sebuah mahakarya lainnya dari seorang maestro bernama Quentin Tarantino. Jelas, ini sebuah film yang penting. Sebuah homage untuk ‘cult movie’ serta ‘spaghetti western’ yang sangat mengesankan. Sejak awal film melalui sebuah opening credit yang sangat norak khas film jadul, Django Unchained telah mencuri perhatian. Menaikkan tensi secara perlahan-lahan, QT berhasil menyajikan sebuah kisah yang berpotensi menjadi sensitif dan menyayat hati menjadi sebuah gelaran yang jenaka, menegangkan, berkelas, serta tentunya, menghibur. Durasinya yang membentang panjang hingga mencapai nyaris 3 jam tidak menjadi persoalan karena, ya, QT sangat lihai dalam mengolah kisah sehingga tidak pernah terasa membosankan. Dengan deretan tembang dari koleksi sang nahkoda kapal yang luar biasa sehingga membuat saya segera memburu album soundtrack-nya usai menonton film ini, tata sinematografi dari Robert Richardson yang sangat cantik, hingga tata kostum dan rias yang meyakinkan, memang sudah sepatutnya Django Unchained menerima banjir pujian dan penghargaan – serta uang – karena ya, memang sudah sepatutnya. Quentin Tarantino dengan segala ide gilanya memang tidak pernah gagal memuaskan saya.
Outstanding
Berkreasi dengan Kaos dan Jeans
Buat apa sih bahas fashion cowok? kan cowok ga perlu dandan macem-macem kayak cewek. Ga perlu ribet. Tinggal pake kaos sama celana jeans, beres..
Eits, ga selamanya lho pernyataan di atas itu bener. Meskipun cowok, kamu tetep harus memperhatikan penampilan juga, tapi tentu saja ngga harus seribet cewek. Cewek males juga kali liat cowok yang penampilannya awut-awutan.. lagian, gimana mau dapetin pacar kalo penampilan kamu kusut gitu, mblo? *eh*
Kaos dan celana jeans memang pakaian ternyaman yang pernah ada, jadi sah-sah saja kalau kamu selalu ingin memakainya setiap hari dalam setiap kesempatan. Nah biar gaya kamu ga “gitu-gitu aja” di mata cewe-cewe, berikut ini beberapa contoh padu-padan kaos dan jeans plus aksesoris yang bisa bikin kamu kelihatan ‘beda’ tapi tetep kasual, keren dan dilirik
kaos dengan tulisan dan gambar yang menarik perhatian
tambahan aksesoris seperti topi, syal, kalung, dan sebagainya
tetap bisa tampil elegan meskipun pake kaos dan jeans kok
So, selamat berkreasi dengan kaos kesayanganmu, boys!
sumber gambar:
Knight and Day
kali ini dua bintang yang dipertemukan adalah Om Tom Cruise sama tante Cameron Diaz. hmm.. saya agak bingung harus mulai cerita darimana. karena introduction nya cepet banget. Langsung masuk ke inti cerita. dan ini yang membuat beda, karena kebanyakan film biasanya memulai cerita dengan introduction yang agak lama.
setting awal adalah di sebuah airport, dimana dikisahkan seorang perempuan bernama June Havens sedang sibuk mempersiapkan penerbangan dalam rangka menghadiri pernikahan adik perempuannya. di airport itu dia mendadak bertabrakan dengan seorang lelaki ganteng yang tak dikenal. bertabrakan dengan orang adalah suatu hal wajar yang pada akhirnya menjadi tak wajar jika tabrakannya terjadi berkali kali, dengan orang yang sama. pasti ada unsur kesengajaan disitu.
cerita berlanjut di dalam pesawat, dimana June Havens ternyata berada pada pesawat yang sama dengan lelaki yg menabraknya tadi. Roy Miller. saya yang tadinya menduga kalau ini adalah film drama yang membosankan, terkejut.. karena justru adegan action nya muncul di saat yang tak terduga..di saat seharusnya ada adegan romantis, eee… malah disisipi adegan action.ada sedikit unsur komedi disini. komedi yang lucu dan terkesan alami, dan menambah seru film ini.
lalu apa inti ceritanya?
ini adalah tentang perebutan sebuah benda. benda yang begitu berharganya sampai2 Roy Miller harus berjuang keras untuk menyelamatkannya dari incaran orang2 jahat yang ingin memilikinya juga. hmmm… dan aksi Roy sangat keren! dia diceritakan sebagai agen rahasia yang bisa melakukan apapun! dari mulai beladiri dengan tangan kosong, penembak jitu, atlet lari cepat, supir mobil yang jago, penjinak bom, mata2 yang handal, hingga pengganti baju perempuan yang dengan menutup mata pun dia bisa melakukannya.. *eh.
bagaimana dengan tokoh perempuannya? sejujurnya saya tidak begitu paham siapa dia. i mean, dia masuk ke inti cerita sebagai orang yang tidak tahu apa2 dalam kasus ini. dia datang, kemudian benda yang diperebutkan itu diselundupkan ke dalam tasnya, dan.. sim salabim! masuklah dia dalam inti cerita..tapi yang menarik, justru ke ‘bloon’ an nya ini lah yang membuat film ini unik dan lucu. sebagai orang yang tak tahu apa2, June dibuat bimbang. karena dia tak tahu harus mempercayai pihak yang mana. apakah dia harus mempercayai Roy Miller, pria ganteng yang entah datang dari planet mana dan tiba2 membawanya masuk ke dalam misi menyelamatkan sebuah benda, ataukah percaya kepada CIA, yang jelas2 mengatakan bahwa sebenarnya Roy lah yang jahat. hmm…
Secara keseluruhan, film ini bagus sekali… dari skala 1 – 10, saya kasih nilai 8 ( sok2 jadi pengamat film ). Actionnya dapet, komedinya dapet. pemerannya pun pas sekali. namun jika anda perhatikan lebih detail-nggaya yo ben-,ada satu adegan yang janggal. yaitu ketika berada di pulau tempat persembunyian Roy, June yang barusaja menerima telpon dari sang adik, buru2 memasukkan ponsel ke saku baju karena musuh datang dan menembaki mereka secara membabi buta. Apa yang terjadi kemudian? June dan Roy langsung lari menuju pantai.. dan byurrrr… meloncat ke dalam air. bersembunyi disana beberapa menit. Apa yang janggal? tentu saja ponselnya… normalnya, ponsel yang tercebur ke dalam air beberapa menit tak akan bisa hidup lagi, minimal rusak. tapi yang terjadi disini, iphone milik roy dan blackberry punya June baik2 saja.. hebat ya! :p
Overall.. film ini bagus. menghibur. bagi anda fans2 om Tom Cruise, bisa melepas rindu dengan menonton film ini.. kerutan2 di wajah nya memang sudah tampak sih, tapi masie tetep ganteng.. sama seperti tante Cameron Diaz.. kerutan di bawah matanya itu tampak jelas sekali.. tapi dia tetep terlihat cantik…dan rambut nya itu lhoo… bagus! selamat menonton yaa.. bagi yang belum nonton.. ![]()






























