The Clouds – Sebuah Awal

Berawal dari sebuah band jam-session yang biasanya  membawakan lagu–lagu pop dari daratan Inggris Raya seperti  The Smiths, Morrissey, The Cure, Lightning Seeds, James , Pulp, dan lain-lain; Aji Wiweko (Ex.Gitaris band old school Hard Core “Empty Message/EPM”), Agus Marrdiyanto a.k.a Marr (gitaris Cambridge Revolt), Adam (bass), Aris (drum) dan Burhan (vokal) pun membentuk “Miserables” pada tahun 2000. Karena suatu kepentingan mendesak yang berhubungan dengan pekerjaan, Aris, Burhan dan Adam pun dengan sangat terpaksa harus keluar dari “Miserables” pada awal tahun

Hingga satu malam, di beranda kediaman rumah Aji, saat duo gitaris yang sedang  dilanda kegalauan karena kepergian 3 rekannya iseng bermusik bersama Wiranata Agung Tyas a.k.a Diaz (Sub Rooster). Kemudian terciptalah sebuah lagu yang diberi judul “Samar”. Lagu ini bercerita soal teman-teman dekat mereka yang terjebak narkoba. Lagu ini menjadi titik awal kebangkitan personel Miserables yang tersisa untuk terus bermusik.

Akhirnya, Aji dan Marr memutuskan untuk merekrut 4 orang teman lama di Cipinang Indie Scene untuk bergabung, termasuk Diaz (bass); Made Widya, gitaris  band hard core skin “Married by Accident/MBA” (vocal); Rio Vanessa a.k.a Echa, ex.gitaris Suck Of Society (keyboardist) dan Ibam (drum). Berenam, mereka sepakat mengubah nama “Miserables” menjadi “The Clouds”. Nama ini cocok merepresentasikan karya mereka yang berisi lirik absurd yang mengawangkan logika, akal sehat dan imajinasi tanpa batas.

Pada era “reformasi” inilah  tercipta lagu-lagu depresif tapi tidak berkesan cengeng, seperti: “Sisi Yang Hilang”, ”Uncertainty”, ”Prelude for Negative Minor“, ”Sepi”, ”Garden of Eden”, ”Silusi” dan “I Wanna Be My Self“.

Pada Januari 2004, The Clouds merekam 8 single tersebut di sebuah studio dan mulai sering tampil di beberapa gigs di Jakarta. Sayangnya di tahun 2008, The Clouds kembali dilanda masalah dengan keluarnya – lagi-lagi – 3 orang personel, yaitu: Echa, Ibam dan Made. Keluarnya 3 personel ini mengakibatkan kevakuman yang cukup lama. Untungnya rekan lama mereka di Cipinang Indie Scene, Rizal Hands  a.k.a Ijal (ex drummer Forgotten Fear) datang mengisi posisi drummer dan Ahmad Fadholi a.k.a Dolly Plester (yang kerap jamming bersama Overcast) didapuk menjadi vokalis. Dari beberapa kali latihan, akhirnya disempurnakanlah single “For My Soulmate”. Namun pada tahun 2010, karena kesibukan solo-projectnya, Dolly terpaksa meninggalkan The Clouds yang kemudian digantikan oleh Ipang Bona Drag a.k.a Abu Haidar (The Firm).

Dengan formasi terakhir ini disempurnakanlah single–single seperti: “Samar”, ”Sepi”, ”Guide Me To Your Door” dan “Lelah Melangkah”. Amunisi personel yang lebih solid dan musikalitas yang lebih terasah membuat The Clouds semakin eksis indie music scene di Jakarta sampai saat ini.

Contributor : The Clouds
Editor : diladifa
Image source : doc. The Clouds

Pesan dari Orang yang (Merasa) Kesepian

Kesepian adalah perasaan yang menyiksa. Saya kira tidak ada orang yang memiliki cukup nyali untuk menyangkalnya. Apalagi bagi mereka yang pernah merasakannya. Waktu seperti membeku dan masa serasa tidak beranjak ke mana-mana.

Kesepian memang identik dengan kesendirian. Tetapi bisa menyerang pula ketika berada di dalam riuh-rendah keramaian. Sebaliknya di tengah kesendirian orang juga bisa merasa memiliki banyak teman. Kok, bisa?

Pesan inilah yang ingin disampaikan oleh The Police lewat lagu berjudul “Message in the Bottle”. Tetapi walaupun bercerita tentang kesepian dan kesendirian, jangan dikira lagu ini terjebak stigma irama menye-menye yang mengharu biru perasaan. Lagu yang tergabung di dalam album kedua “Reggatta de Blanc” ini tetap tampil rancak, sehingga berhasil nangkring di puncak tangga lagu di Inggris, Spanyol dan Irlandia.

 

Ini Kisahnya…

Lagu ini diawali dengan kisah tentang seseorang yang terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Dalam kesendiriannya, tentu saja dia merasa kesepian. Dari hari ke hari dia hanya berharap datangnya pertolongan sebelum perasaan putus asa menyergapnya.

Sebagaimana tipikal kisah tentang orang yang terdampar, dia pun mengirimkan surat di dalam botol. Dia berharap akan ada orang yang menemukannya dan menyelamatkannya. Setahun berlalu, dan dia semakin larut dalam kesendirian.

Setahun berlalu, namun keadaan semakin tidak menentu. Tokoh kita semakin terpuruk di tengah kesendirian. Hanya harapan yang membuatnya tetap bertahan. Tanpa dia sadari kejutan besar telah menanti.

Ada Maknanya…

Secara tersurat lagu ini memang bercerita tentang orang yang terdampar di pulau yang tidak berpenghuni. Tetapi bisa juga dipandang sebagai sindiran bagi kita yang terjebak di tengah kemacetan kota. Terutama kota-kota besar ibukota negara.

Coba tanyakan pada diri sendiri : di kota besar dengan penduduk padat berjubel, berapa orang tetangga yang masih kita kenal? Seberapa peduli kita dengan kondisi lingkungan? Berapa banyak lajang yang memilih untuk memisahkan diri dan tinggal menyendiri? Berapa banyak orang yang memilih menutup diri dengan alasan privasi?

Setiap hari kita berdesakan dengan mereka yang kita sebut sebagai orang asing. Itulah kita. Kesepian di tengah keramaian dan berteman dengan kesendirian.

Mungkin tiba saatnya bagi kita untuk mengirimkan surat sebagai orang yang terdampar seperti cerita dalam lagu di atas. Kita butuh pertolongan, sebelum perasaan putus asa berkuasa.

… Dan Ada Kejutannya

Kembali kepada tokoh kita yang tengah terdampar. Suatu hari dia terbangun dan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berjuta-juta botol telah terserak di tepi pantai. Sebanyak itukah orang yang terdampar dan mengirimkan pesan? Apakah mereka semua juga merasa kesepian?

Jika ya, berarti banyak orang yang senasib dengan dirinya : terjebak di tengah kesendirian. Menyadari ini, tokoh kita tidak merasa sendiri lagi. Ternyata di dalam kesunyian dia masih memiliki banyak teman.

Itulah kita. Terkurung dalam kesepian di antara hiruk-pikuk keramaian kota. Terkungkung di tengah-tengah wajah yang familiar tanpa nama yang harus dihafal. Namun di sisi lain kita juga merasa banyak orang yang senasib sepenanggungan, apalagi dengan internet di dalam genggaman.

Begitulah. Kisah ini berakhir begitu saja. Tidak ada yang berubah. Dia masih tetap terdampar di pulau tanpa penghuni kecuali dia seorang. Tetapi kini dia tahu ada banyak orang yang senasib dengan dirinya. Karena ternyata begitu banyak orang yang kehilangan jati diri dan mencari di antara gaung sepi dan gema sunyi. Tidak ada lagi kesepian walau di tengah kesendirian.

Tinggallah satu pesan yang masih tersisa. Kesepian bisa ditiadakan dengan cinta. Seperti lirik berikut ini :

Love can mend your live but love can break your heart.

Ya. Cinta dapat membuat hidupmu berbunga-bunga, tetapi cinta juga dapat membuat hatimu terluka. Tapi bagaimana pun juga harapan itu harus tetap ada. Untuk mengirimkan sinyal kepada dunia, dan tidak menyerah pada kesepian kita.

Sending out an SOS …
Sending out an SOS …
Sending out an SOS …

 

Kontributor : Bang Dje (http://bangdje.wordpress.com/)
Editor : diladifa
Sumber gambar : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/8/83/Messageinabottle.jpg

Tempo Doeloe

Apa yang lebih seksi dari poster-poster tempoe doeloe yang nyeni?

Ya, beberapa desain memang sengaja kami buat sedemikian rupa. Produk-produknya hanyalah karangan dan imajinasi kami semata, tapi inspirasinya jelas dari artwork khas pariwara dahulu kala. Karena bagaimanapun juga sesekali kita perlu diingatkan, bahwa secanggih apa pun dunia, kita tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sejarah.

 

Follow vint8 on twitter!

3 Easy Steps

Orang bijak berkata : kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau. Entah itu aktor tampan, tokoh revolusioner atau rockstar. Tidak perlu jalan panjang yang berliku. Kami konstruksikan, kami bagikan, kami cetuskan “Tiga Langkah Mudah” sebagai solusi dalam menghadapi kejamnya dunia. Just as easy as one-two-three. 

Sebuah desain untuk menggoda diri sendiri yang punya mimpi tinggi :p

 

Follow vint8 on twitter!

Raglan : Fashion from The Battle Scar

“Kegantengan cowo naik 37,28% kalo dia pake kaos raglan. Okesip.”

Kalimat itu otomatis keluar dari mulut saya setiap kali lihat cowo yang pake tees dengan jahitan lengan khas itu. Bukan angka yang valid tentu saja, cuma asal ngomong. Tapi entah mengapa, di mata saya, raglan tees berkontribusi mendongkrak tingkat kekerenan seorang cowo. Faktor lainnya, itu bonus.

Raglan sleeve adalah model jahitan lengan pada top atau atasan, dimana jahitannya tidak melingkari pangkal lengan seperti biasa, melainkan melintang dari pangkal lengan menuju pangkal leher. Dengan demikian jahitan yang melintang di bahu lenyap, sehingga mempermudah proses pembuatan keseluruhan item busananya. Desain yang praktis ini juga membuat raglan sleeve terasa longgar di ketiak dan nyaman dipakai bergerak. Sementara secara estetis, faktor penggunaan warna yang berbeda antara potongan torso dan potongan lengan memberikan kesan sporty dan dinamis. Hasil akhirnya: keren. Titik.

Konon, istilah raglan sleeve diambil dari nama seorang bangsawan sekaligus prajurit Inggris yang bernama bernama FitzRoy James Henry Somerset, Baron Raglan pertama. Sang Baron kehilangan salah satu lengannya saat Battle of Waterloo di abad ke-18. Untuk memudahkan sang Lord berbusana, penjahitnya membuatkan coat pendek dengan jahitan lengan diagonal dari leher ke pangkal lengan. Selanjutnya model ini menjadi populer dengan sebutan Raglan sleeve.

Seiring perkembangan jaman, raglan sleeve kemudian diaplikasikan ke berbagai material dan model busana. Mulai dari sportswear, sweater/jersey, cardigan, long coat, hingga onesie untuk para dede baby. Yang paling populer tentu saja aplikasi raglan sleeve pada seragam baseball.

Nah, sekarang buat kamu, baik cowo atau cewe, yang pengen tingkat kerennya bertambah 37,28%, you better go get raglan tees.

PS:
Bakal nambah 25,17% lagi kalo raglan tees-nya produksi Vinteight. Hehehe.

Image source :

  • wikipedia.org
  • selectism.com

A Slow in Dance: Tarian Generasi Awal Postrock Lokal

Inilah band hebat yang akhir-akhir ini sering saya mondar-mandir di playlist saya: A Slow in Dance (ASID); sebuah band asal Cimahi, Bandung yang terbentuk pada April 2006. Beranggotakan Eickman Widi (gitar), Argatyas (gitar), Agus Herdi (bass, tahun 2008 digantikan Firman) dan Justian (drum dan sampling), mereka meracik musik experimental/postrock dengan sudut pandang dan representasi dari kehidupan sehari-hari.

“Kenapa postrock yang notabene musik minus vokal itu?”, adalah satu dari beberapa pertanyaan yang sering dilayangkan pada awal kemunculan ASID. Jawaban mereka: “Postrock adalah musik yang mencirikan isi hati dimana kita bisa lebih jauh menelaah arti hidup yang menenangkan, it seems like healing sounds.” Identik dengan band-band yang meng-influence mereka seperti Explosions in the Sky, Mono, Godspeed You! Black Emperor hingga Russian Circles; lirik bukan menjadi kendala bagi ASID. Musik nirlirik dipilih semata-mata untuk lebih membebaskan para pendengarnya agar dapat menciptakan emosi sendiri tanpa batasan.

Akhir tahun 2006 ASID berhasil merampungkan 5 lagu yang dikemas dalam sebuah EP/mini album yang berjudul “We Hate This But We Need to Survive”. Bisa dibilang ASID termasuk generasi pertama pengusung postrock di Indonesia (yang pada saat itu masih belum dikenal). Tidak hanya sampai disitu; dengan promo melalui internet karya mereka sukses menembus pasar Malaysia, Singapura, Philipina, dan China. Bahkan beberapa radio di Amerika Serikat memutar dan memasukannya ke chart, sejajar dengan para musisi lokal disana. Sungguh prestasi yang membanggakan.

Bagaimana jika saya harus menggambarkan suasana yang tertangkap saat menyimak debut mereka ini? Kesan gitar yang menggeram bisa ditemui pada lagu ‘Sing and Noise’ dan ‘Saturday No Moon’. Satu komposisi dengan vokal wanita ‘Love, Hope and Pain’ juga mereka bawakan dengan manis. Terlihat kombinasi mid-low tempo, loop sampling dan noise yang terjaga.

Pada Mei 2011 lalu “Back to the Brightside” menyusul dirilis dalam bentuk fisik dan digital download. Sekilas mini album ini berubah dari pakem EP sebelumnya mulai dari materi sampai pematangan sound. Kesan tenang pada track pembuka ‘Orange in the Afternoon Sky’ akan langsung buyar oleh awalan ‘Another Crack on My Window’ yang kasar. Semakin diputar-putar pula semua isi kepalamu ketika memasuki bridge dalam ‘Back to the Brightside’. Belum habis, tantangan berlari untuk mengikuti tempo ‘Wall of Box’ harus kamu kejar sebelum track penutup ‘Story of Life’ dimainkan. Permainan delay dan dengungan fuzzbox tipis semakin mempermanis lapisan gitar yang distorsif secara keseluruhan, walau tidak terlalu berat.

Single-single mereka juga ikut meramaikan beberapa kompilasi seperti “Sirene Sound Compilation Vol. IV”, “Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga” dan “Hope for Japan”. FYI, nama A Slow in Dance juga tercantum di dalam salah satu tees yang pernah Vint8 bikin pada Stream 1 Februari lalu lho, mantep kan? Hehehe. Nah, daripada semakin penasaran, silakan cek fanpage mereka di bawah ini. Dan jangan sampai ketinggalan, ASID juga akan mengadakan mini tour pada 10-17 Juni besok di beberapa kota di Jawa.

 

A Slow in Dance fanpage and social media link:

 

 

Alestorm – Bajak Laut Cadas dari Skotlandia

Sedikit sekali lagu bertempo cepat di playlist, bisa dibilang telinga ini terlalu payah untuk bersahabat dengan band-band bergenre metal, hardcore dan sejenisnya. Saat pertama kali mendengarkan Alestorm pun agak lucu prosesnya. Dengan setengah memaksakan diri mencari suasana baru yang lebih cadas, ada satu yang menarik perhatian untuk berkenalan dengan band ini. Setahu saya, jarang bahkan belum pernah ada penyanyi/grup yang terobsesi dengan dunia bajak laut, dan mereka menawarkan keunikan tersebut sebagai identitas mereka. Lalu apa hebatnya?

Terbentuk tahun 2004 di Perth, Skotlandia; Alestorm pada awalnya menggunakan nama Battleheart. Sempat mengalami bongkar-pasang personel, akhirnya mereka menemukan formasi yang solid: Christopher Bowes (vokal dan keyboard), Dani Evans (gitar), Gareth Murdock (bass) dan Peter Alcorn (drum). Kuartet ini mengusung aliran heavy/power/folk metal, yang kemudian mereka patenkan dengan sebutan “True Scottish Pirate Metal”.

Identitas bajak laut semakin mereka perkuat dengan 3 album yang judulnya menyerupai buku dongeng tentang pertempuran laut yang seru: “Captain Morgan’s Revenge”, “Black Sails at Midnight” dan “Back Through Time”. Atribut khas awak bajak laut tidak lupa mereka kenakan saat live perform. Tidak hanya sampai di situ, beberapa instrumen seperti tin whistle, vibraslap, brass bahkan bagpipe juga membuat Alestorm lebih bernuansa scottish. Secara keseluruhan lagu-lagu mereka bercerita tentang teror Jolly Roger, meriam kapal, gemuruh hujan badai di lautan lepas dan peperangan antar koloni di dalamnya.

Semua hal yang mengerikan dan menantang nyalimu untuk berlayar lengkap ada disini. Apakah temanya terlalu monoton? Tidak, justru ini yang dinamakan spesialisasi. Kecepatan riff gitar berdistorsi dan double kick drum menyalakan semangat untuk menghabisi kapal siapa saja yang ada di depanmu, hancurkan dan bunuh! Harmonisasi bebunyian alat musik tradisional Skotlandia juga siap mengiringi tarian kemenanganmu saat musuh takluk dan rampasan perang berhasil dikuasai.

Tidak ada key track dari masing-masing album karena Alestorm sendiri jarang merilis single hits, pun hanya sebatas tribute dari komposer Swedia (Pirates of the Sea) yang berjudul “Wolves of the Sea” dan cover version dari Stan Rogers “Barrett’s Privateers”. Sebagai rekomendasi silakan simak “Over the Seas”, “No Quarter” dan “Set Sail and Conquer” yang begitu megah. Jangan lupa “Keelhauled” dan “Of Treasure” yang kental nuansa folknya, cukup membuktikan bahwa mereka bukanlah band sembarangan.

Ingat “Flower of Scotland”? Ini adalah satu chant dan unnofficial anthem yang sering dibawakan pada beberapa acara (kebanyakan kompetisi olahraga) di Skotlandia. Lagu ini menceritakan sejarah kemenangan mereka saat melawan Inggris pada Perang Britania abad 14, tidak ketinggalan Alestorm turut memasukkannya ke dalam album pertama.

“O Flower of Scotland, when will we see your like again. That fought and died for your wee bit hill and glen and stood against him. Proud Edward’s army and sent him homeward, to think again.” – Ah, memang selalu ada nilai lebih sebuah band saat menyisipkan nasionalisme dalam karya mereka. Baiklah kapten, sampai disini dulu basa-basinya dan mari kita berlayar lagi! All aboard!

 

Image Source:

  • orgogliocrociato.forumfree.it
  • soundshock.co.uk

Britpop, Oasis and Live Forever

Ketika orang pertama kali mendengar nama Oasis, kemungkinan besar ia akan langsung teringat genre musik yang disebut britpop. Bisa dibilang, Oasis merupakan salah satu pelopor aliran britpop yang paling sukses di zamannya.

Britpop sendiri merupakan subgenre musik alternative rock yang lahir di Britania Raya alias Inggris. Awalnya,aliran britpop muncul dari scene musik independen di awal tahun 90-an, dengan karakteristik suara gitar yang poppish ala era tahun 60-an sampai 70-an. Beberapa band Britpop selain Oasis yang mulai tenar di awal era 90-an diantaranya adalah Suede, Blur, Pulp, Supergrass, Sleeper, dan Elastica.

Oasis merupakan grup rock yang dibentuk di Manchester tahun 1991. Awalnya Oasis yang bernama The Rain, digagas oleh Liam Gallagher sebagai vokalis dan pengetuk tamborin. Anggota awalnya adalah Paul Arthurs sebagai gitaris, Paul McGuigan sebagai bassis, serta Tony McCarroll pada drum dan perkusi. Tak lama kemudian, kakak sulung Liam, Noel Gallagher, ikut bergabung dengan band tersebut sebagai gitaris dan vokalis. Mereka memperoleh perhatian publik ketika tampil di Manchester Club Circuit.

Oasis kemudian bergabung dengan label rekaman Indie Creative dan merilis album pertamanya, “Definitely Maybe”, pada tahun 1994. Satu tahun setelahnya, mereka kembali merilis album dengan judul “(What’s the Story) Morning Glory?”, dengan drummer barunya Alan White. Rivalitas kepopuleran Oasis dan Blur (yang sudah terlebih dahulu eksis) mulai terasa memanas. Noel dan Liam yang menjadi ikon populer Oasis kemudian kerap muncul menghiasi halaman-halaman majalah, tabloid, dan koran mingguan di Inggris. Pertama karena performa Oasis as a band, dan kedua karena gaya hidup mereka yang liar dan kontroversial.

Tahun 1997, Oasis merilis album ketiganya yang bertajuk “Be Here Now”. Album ini merupakan album yang paling cepat penjualannya dalam sejarah UK Chart. Tapi sebagian kritikus menilai mereka kehilangan daya tarik. Setelah album “Standing on the Shoulder of Giant”, dirilislah album keempat “Heathen Chemistry” pada tahun 2002. Dalam masa ini, Oasis ditinggalkan dua personil utamanya, yaitu Paul McGuigan dan Paul McArthur. Oasis kembali meraih popularitas melalui album “Don’t Believe The Truth” dan beberapa tur promosi yang dilakukan.

Album “Dig Out Your Soul” yang dirilis tahun 2008 adalah album studio terakhir yang dirilis Oasis sebelum bubar. Komposisi personel kala itu adalah Gallagher bersaudara, Gem Archer (gitar), Andy Bell sebagai (gitar), dan Chris Shamrock (drum). Selain album studio, Oasis juga pernah merilis beberapa album live dan kompilasi, seperti “Familiar To Millions” (Live Album, 2000), “The Masterplan” (Compilation, B-side Collection, 1998), “Stop The Clocks” (Compilation, Best of Collections, 2006), dan “Time Flies… 1994-2009″ (Compilation, Singles Collection).

Menurut Belfast Telegraph, hingga kurun waktu Juni 2009, Oasis telah menjual 90 juta rekamannya di seluruh dunia. Mereka juga memiliki 8 single yang pernah bertengger di posisi pertama UK Chart, serta mengoleksi 15 NME Awards, 5 BRIT Awards, 9 Q Awards, dan 9 MTV Europe Music Awards. Bahkan, di bulan Februari 2007 lalu, Oasis menerima BRIT Awards untuk kontribusi mereka yang luar biasa pada dunia musik.

Dalam Oasis, Noel dikenal sebagai penulis lagu yang karyanya sering dipakai untuk single. Sebenarnya tidak hanya Noel, personel Oasis yang lain juga ikut berkontribusi dalam pembuatan lirik dan lagu Oasis. Sebagai penggemar musik Britpop, Oasis adalah salah satu grup musik Britpop dengan sisi musikalitas terbaik yang pernah ada di dunia. Terbukti bahwa beberapa albumnya pernah merajai chart album terbaik sepanjang masa di UK.

Namun sangat disayangkan bahwa perseteruan kakak beradik Noel-Liam Gallagher yang seringkali terjadi  (puncaknya di bulan Agustus 2009) berujung bubarnya Oasis pada tahun 2010 lalu. Noel Gallagher bersolo karir atas namanya sendiri dengan merilis sebuah album perdana berjudul “Noel Gallagher’s High Flying Birds” (Oktober 2011). Sedangkan Liam Gallagher bersama sisa personil Oasis yang lain mendirikan bendera baru bernama Beady Eye. Beady Eye juga telah menelurkan sebuah album debutnya bertajuk “Different Gear, Still Speeding” (Februari 2011). Namun demikian, beberapa fans militan Oasis mengakui bahwa “Oasis… It’s not a band, it’s a generation!”. Nyawa di setiap lagu-lagu Oasis sepertinya telah melekat dan dekat di hati para penggemar musik Britpop. Seperti salah judul lagu Oasis, kami percaya bahwa musik berkualitas bergenre Britpop tak akan pernah tenggelam, Live Forever…


Contributor : Aditya Rizki Yudiantika
Editor : diladifa
Image Source :

  • muhdaslam.tumblr.com
  • houtskools.com
  • oasis-guides.blogspot.com