Just A Photo From Our Freelance Contributor

Sonic Youth Tee – V8M



Follow vint8 on twitter!

The Wild Trapeze Tee – V8M



Follow vint8 on twitter!

Lord Don’t Slow Me Down Tee – V8M



Follow vint8 on twitter!

Apocalyptica : Cellist Goes Rock

Selama ini kita selalu mengasosiasikan alat musik cello sebagai bagian dari musik klasik. Bagaimana bila cello dimainkan dengan penuh kekhusyukan pada musik rock? Try Apocalyptica!

Tidak banyak orang yang pernah mendengar nama band rock asal Skandinavia ini. Apocalyptica pertama kali berdiri tahun 1993 di Helsinki, Finlandia; dengan beranggotakan  Eicca Toppinen, Paavo Lötjönen, Max Lilja dan Antero Manninen di awal kemunculannya. Keempatnya merupakan lulusan sekolah musik Sibelius Academy yang terkenal di negara asal mereka. Album pertama mereka dirilis pada tahun 1996 dengan titel Plays Metallica by Four Cellos, dimana mereka mengcover lagu-lagu milik Metallica.

Dengan jenis musik yang unik dan appearance yang menarik, Apocalyptica cepat mendapatkan tempat di hati pendengar, di wilayah Skandinavia pada umumnya dan Finlandia pada khususnya. Sayang pada tahun 1999 Antero Manninen memutuskan untuk hengkang dari grup dan posisinya digantikan oleh Perttu Kivilaakso yang sebenarnya sudah ikut membantu Apocalyptica sejak tahun 1995.  Pada tahun 2002 Max Lilja juga memutuskan untuk mundur dari Apocalyptica dan bergabung dengan band Havein.

Setelah beberapa album yang berisi cover lagu band lain, tahun 2003 Apocalyptica merilis Reflections, album studio keempat yang seluruh lagu-lagunya merupakan orisinil ciptaan Apocalyptica. Di album ini Apocalyptica lebih banyak melakukan eksperimen suara, bukannya berakustik-ria seperti dalam album-album sebelumnya. Dalam album Reflections, terdapat 5 tracks yang dibantu Dave Lombardo, drummer untuk band Slayer dan sebagian yang lain diisi oleh Sami Kuoppamäki. Tapi karena Lombardo tidak mungkin bergabung secara permanent, Apocalyptica akhirnya memakai Mikko Sirén dalam setiap tur-nya. At the end,  Mikko Sirén bergabung secara resmi dengan Apocalyptica setelah melakukan lebih dari 200 pertunjukan di tahun 2005.

Selain menciptakan lagu sendiri, Apocalyptica memberikan warna dalam musiknya dengan mengajak beberapa vokalis ternama untuk membantu mengisi vokal dalam album kelima mereka. Sebut saja Ville Valo dari HIM dan Lauri Ylönen yang sudah lebih dulu melejit dengan band The Rasmus-nya. Kolaborasi dengan vokalis-vokalis ternama kembali dilakukan pada album keenam, dengan menggandeng vokalis Slipknot, Corey Taylor dan Stone Sour. Hasilnya, album tersebut bercokol di jajaran 10 teratas untuk chart Active Rocks dan Alternative Rocks.

Pada tahun 2008 single Apocalyptica featuring Adam Gontier yang berjudul “I Don’t Care” menembus posisi rangking 1 dalam Billboard rock chart dan menjadikan Apocalyptica sebagai band Finlandia pertama yang masuk kedalam US charts. Single “I Don’t Care” juga muncul dalam episode ke-16 season 8 drama televise Smallville, yang tayang pada tanggal 19 Maret 2009.

Apocalyptica  tidak hanya mengajak vokalis pria, namun mereka juga melakukan eksperimen dengan mengajak dua orang vokalis wanita yaitu Lacey Mosley dari Flyleaf untuk mengisi single kedua mereka yang diberi judul “Broken Pieces” serta Christina Scabbia vokalis Lacuna Coil  asal Italia dalam single “S.O.S (Anything But Love)”. Apocalyptica mempercayakan Brent Smith untuk mengisi single ketiga yang dirilis yaitu “Not Strong Enough”. Namun karena adanya pembatasan pendistribusian vokal Brent Smith, maka single “Not Strong Enough” direkam ulang dengan mengajak Doug Robb dari Hoobastank dan “Not Strong Enough” yang direkam ulang ini dirilis pada tanggal 18 Januari 2011 di radio-radio di Amerika Serikat.

Pada saat tulisan ini diturunkan, Apocalyptica sedang sibuk melakukan tour Amerika Selatannya, dimana mereka selalu mendapatkan sambutan hangat di setiap negara atau kota yang mereka hampiri.

Apa yang membuat Apocalyptica berbeda? Jelas, karena pemilihan alat musik yang bisa dibilang nyentrik kalau tidak mau disebut kontroversial dalam “dunia” musik rock. Beberapa media bahkan menggolongkan genre musik mereka sebagai cello rock/metal. Namun karena hal itulah, Apocalyptica menempatkan dirinya sebagai band papan atas dengan skill yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain itu, karakteristik musikalitas band-band rock Eropa bisa dibilang lebih ‘kaya’ jika dibandingkan dengan band-band rock asal Amerika pada umumnya. Efek suara yang megah, paduan suara, unsur string section, serta dipadankan dengan lirik yang kelam dan berat, membuat band-band asal Eropa, termasuk Apocalyptica, patut diacungi 4 jempol sekaligus.

Jika sudah bosan dengan band rock yang menampilkan musik yang ‘itu-itu saja’, maka coba dengarkan Apocalyptica dan rasakan menonton konser klasik dengan efek rock. Atau konser rock dengan efek klasik? You decide.

Contributor : Dhamayanti Setiadi
Editor : diladifa
Image source : http://en.wikipedia.org/wiki/Apocalyptica

Coexist: Menghindari Sensitivitas Dengan Cara Sederhana

“Jesus, Jew, Mohammed, it’s true… All sons of Abraham.”

Bukan kapasitas kami untuk memberi ceramah layaknya para pemuka agama. Tidak juga berhubungan dengan kasus yang melibatkan antar pemeluk agama yang sensitif untuk diperdebatkan. Maksud dari desain ini hanya sebatas quote tentang paham Coexist yang kami anggap luar biasa dari seorang Bono U2.

In our humble opinion, segala macam yang plural sebenarnya akan mengerucut menjadi singular. Cobalah berbicara dengan sejarah. Semua manusia yang dikotak-kotakkan dengan kepercayaan adalah berasal dari satu sumber. Runutlah ke atas sampai pada satu titik yang membenarkan bahwa kita semua adalah saudara. Jika akhirnya terjadi perbedaan, pada dasarnya itu hanya sebuah pilihan saja. Jadi percuma jika setiap keberagaman dijadikan alasan untuk memicu polemik tanpa guna.

Coexist is about existing together; at the same time, in the same place. Coexist identik dengan pluralisme. Pluralisme membuat kita menghargai setiap aspek religi, sekaligus menempatkan diri dalam kultur sosial. Pluralisme membawa kita belajar memposisikan diri dan menghargai antar ajaran agama. Setidaknya itu yang saya tangkap dari dasar teorinya, walau pun penerapannya kerap berlawanan. Tidak perlu disebutkan contohnya, kamu pasti akan bosan membacanya.

Hal-hal tentang kesetaraan ras dan gender juga menjadi bagian dari Coexist. Sudahkah semuanya ditempatkan dengan baik? Mungkin masih jauh dari ideal. Tapi tak ada salahnya kan kita berharap kebaikan akan datang pada akhirnya? Tak ada kesenjangan dan dominasi salah satu unsur. Setiap individu berinisiatif untuk menerapkan nilai-nilai pluralisme dalam berkehidupan. Kembali lagi sejarah: kita semua sama.

Menghargai pluralisme bahkan bisa diterapkan dalam setiap hal aspek kehidupan. Contohnya, saya pecinta musik pop, tapi mau menerima rekomendasi album metal dari teman. Saya bukan movie freak seperti rekan kerja di kantor, tapi dengan senang hati menerima ajakan nonton bareng saat mereka mengagendakan ke bioskop. Dari hal-hal kecil semacam ini, mungkin saya berusaha menyikapi perbedaan sebagai pembelajaran baru.

From now on, cobalah untuk mengatakan ya atas hal-hal baru (yang positif) yang ditawarkan oleh temanmu. Give it a try. Mulai dari musik, film, games, hobi, atau sekedar tempat nongkrong. Tidak ada salahnya untuk mencoba berkenalan. Bahkan bukan tak mungkin kita akan mendapatkan insight baru dari segala sesuatu yang belum pernah kita coba sebelumnya. Berangkat dari yang kecil, diferensiasi yang lebih kompleks bisa diselesaikan dengan mudah. Dan pada akhirnya, mata kita akan terbuka, bahwa keanekaragaman adalah hal yang menyenangkan.

PS:
Beberapa hari setelah desain Coexist ini keluar, seorang teman saya yang maniak metal menghampiri dan berkata, “Eh, ternyata U2 asik juga yah? Gara-gara kaos lo kemaren, gue searching lagunya. Sekali-kali nge-jam yuk? Mainin City of Blinding Lights! Yaaa, sekali-kali rehat dulu main distorsinya. Refreshing gitu, hehehe”

See, menerima perbedaan itu sebenarnya indah bukan?

 

Follow vint8 on twitter!

Joplin in WPAP

Awalnya ingin mencoba teknik desain yang diperkenalkan pada awal tahun 90-an oleh Wedha Abdul Rasyid sang illustrator Lupus. YUP! Lupus! Tokoh fiksi karangan Hilman Hariwijaya yang terkenal diera 80 – 90an. Kalo baca serial Lupus, pasti familiar juga dong sama ilustrasi yang dibuat sama Wedha? Teknik yang khas itu lazim disebut WPAP, Wedha’s Pop Art Portrait.

Menurut saya pribadi, ilustrasi dengan teknik WPAP ini sangat eye-catching, semacam kubisme bernuansa pop-art. Meski proses pengerjannya tergolong rumit dan memakan banyak waktu, tapi jika melihat hasil jadinya, rasanya ingin segera membuat lagi karya baru dengan teknik ini. Di tengah proses pembuatan teknik WPAP ini, kita seperti tertantang untuk mengkomposisikan warna dan efek pencahayaan pada bidang yang sedang kita kerjakan. Dan itu menarik sekali, saudara.

Ada beberapa kandidat sebelum saya memutuskan menggunakan image mbak Janis Joplin sebagai kelinci percobaan teknik WPAP. Proses pengambilan keputusannya pun tergolong alot, masing-masing kandidat sangat berkompeten dan memiliki talenta luar biasa. Sekali lagi saya sampaikan kepada para kandidat lain: “Jangan berkecil hati. Kalian semua bagus, sangat bagus. Kalian semua adalah pemenang. Terus berlatih dan persiapkan diri kalian, karena saya akan kembali tahun depan.” XD

Sebenarnya, jika melihat karya-karya WPAP yang lain, desain Joplin yang saya buat diatas tergolong miskin warna. Hal itu disebabkan karena saya harus memperhitungkan proses produksi untuk direalisasikan menjadi sebuah kaos. Di luar sah atau tidak sahnya desain diatas digolongkan sebagai WPAP, saya merasa bangga karena sudah mencoba sebuah teknik yang diciptakan oleh Pak Wedha ini.

Jika tertarik dengan teknik WPAP, kamu bisa googling untuk info lebih lanjutnya.  Banyak juga lho yang membagikan tutorialnya.

So.. Let’s WPAP-ing some pics!

 

Follow vint8 on twitter!

Between Fashion and Religion*

Pernah satu kali pada acara makan malam sederhana di sebuah restoran kecil di utara kota Bandung, seorang teman melemparkan satu pernyataan unik, “Jaman sekarang, milih sepatu sama tas itu udah kaya’ milih agama!”, katanya sambil mengunyah sepotong sosis. Awalnya tidak saya hiraukan, tapi lama kelamaan saya pun berpikir: sebegitunyakah “gaya” hingga dapat dibandingkan dengan “agama”?

Kalau dilihat sepintas, kedua kata ini tidak saling terkait. Tapi dengan rumus sang detektif Sherlock Holmes di setiap kisahnya: sederhanakan masalah, saya bisa mulai bisa melihat keduanya seperti terikat oleh hubungan yang teramat jelas.

Perkembangan jaman sejak penggunaan batu masih digunakan sebagai alat potong, hingga sekarang, tidak lepas dari pengaruh gaya. Secara alamiah, manusia merasa perlu mengenakan sesuatu yang menempel di jasmani mereka. Tidak hanya pakaian atau sepatu, tetapi juga hal-hal lain yang bahkan merasuk ke dalam kulit, tato misalnya. Manusia adalah makhluk yang bagi saya teramat bergantung pada apa yang ada di sekitarnya dan mendambakan perhatian. Fashion adalah salah satu hal yang digunakan untuk mendapatkan kedua hal tersebut.

Fashion kemudian muncul sebagai salah satu inovasi zaman paling maju. Terlebih lagi benda yang melekat pada organ-organ genital mereka. Celana dalam dan kutang adalah simbol kepekaan manusia terhadap “malu” sekaligus lambang kemajuan cara berpikir manusia ke arah manusia. Fashion lengkap dengan aksesorisnya kemudian berkembang hingga hampir tidak bergender, jika kita berpikir rok adalah bagian satu-satunya dari fashion yang melambangkan perbedaan.

Gaya multi-gender atau lazim disebut androgyny ini kemudian terus berkembang. Pada sudut pandang ini, wanita lebih mujur. Gaya seolah tercipta untuk mereka. Sial bagi pria ketika terlalu fashion-concious membuat mereka mendapatkan cap pria metroseksual atau bahkan homoseksual.

Perkembangan fashion menuju ke arah yang semakin bebas bergairah semakin memperjelas bahwa kebutuhan manusia akan hal tersebut hampir bisa disamakan dengan kebutuhannya akan pemuasan kebutuhan yang lain. Ditambah masuknya berbagai gaya, ciri khas, baik modern atau kontemporer, yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri membentuk satu opini bahwa fashion akan dengan mudah diterima kedatangannya.

Kembali pada persoalan fashion pria yang lebih tricky. Pria adalah makhluk kompleks yang sebagian lebih memilih untuk merasa bergengsi ketimbang berbesar hati. Hal ini saya artikan sebagai sikap malu-malu ketika ikut terjerumus ke dalam budaya fashion yang masih menjadi dominasi para wanita.

Munculnya berbagai macam aliran fashion dari seluruh dunia mendorong pria untuk lebih bereksplorasi menempelkan item-item fashion ke atas kulit mereka. Berputar. Keluar dari cangkang. Me-metroseksual-kan diri dalam batas yang aman, jika memang tidak ingin disebut metroseksual. Melebur dengan fashion, bebas dan merdeka.

Zaman sekarang sudah tidak aneh kalau pria pun memiliki jadwal khusus tersendiri demi melakukan sebuah perawatan diri. Lumrah. Keluar dari kekakuan dan bergerak bebas. Beberapa produk fashion bahkan ikut diciptakan khusus untuk mereka. Kemeja-kemeja tak lagi kaku kotak-kotak, celana tak lagi gelap berwarna muram bahkan aksesoris-aksesoris lain ikut ditambahkan untuk ditempelkan.

Faktor lain yang juga mempengaruhi inovasi fashion pria adalah gelombang budaya pop luar negeri yang semakin gencar membanjiri. Pop barat tidak lagi mendominasi bentuk-bentuk apa yang paling nyentrik untuk dipakai. Fenomena K-Pop menjadi salah satu penyeimbang bahwa budaya Pop Asia pun memiliki ciri khas yang tak lepas dari kreativitas orang-orang timur.

Tak heran ketika di berbagai sudut kota, jalanan atau pusat perbelanjaan, banyak orang-orang yang memiliki gaya fashion seragam. Baik pria atau wanita. Menghadap gaya budaya yang sedang hits pada masanya. Fashion pun meninggalkan jejak di setiap zaman yang sempat disinggahinya. Kita dengan akrab bisa mengenali kalau ada gaya-gaya tertentu yang khas berasal dari dekade sekian. Fashion tahun 60-an, 70-an. 80-an dan sebagainya. Gaya yang kita kenakan saat ini mungkin akan ikut terekam sebagai salah satu jejak karya para fashionista.

Jadi, apakah fashion lebih sulit dipilih ketimbang agama? Kalau kita menganggap bahwa fashion adalah sebuah kepercayaan dalam artian yang hampir sama, saya menganggap memilih gaya-gaya tertentu untuk kita tampilkan sebagai citra diri itu sama susahnya dengan memilih apa yang kita percayai. Karena, jika beruntung, apa yang kita kenakan menjadi cerminan zaman, bukan?

*) No offense, really.

-

Contributor : Bambang Ramdhan
Editor : diladifa
Image source :

  • girlsinsuits.tumblr.com
  • pixieshawol.blogspot.com