Kamu Mau Jadi Pacar Vint8?

“Udah dimasukkin ke list kan order ane? Tadi siang udah transfer lho, dicek yak..”
“Woy tanggal segini kok orderan gue belum nyampe gimana nih?”
“Min, mention gue belum dijawab tuh di twitter? Mau nanya penting nih!”
Setidaknya itu adalah tiga dari sekian banyak kalimat buyer tercinta (tsahhh..) yang setiap hari kami hadapi. Jika guru sekolah saya dulu menyuruh menguraikannya menjadi kalimat berpola S-P-O-K, maka selanjutnya akan langsung saya masukkan ke dalam kategori “kalimat penglaris obat sakit kepala berpola F-F-F-F”. Begitulah keseharian customer care, berhadapan dengan emosi buyer bukan lagi sesuatu yang asing bagi kami.
Tapi bukan hal yang membuat kami menyerah begitu saja, komplain tetaplah komplain. Harus diselesaikan dengan senyum dari kedua belah pihak. Bagaimana kita mencari problem solving-nya? Alhamdulillah sampai tulisan ini kamu baca, kami masih bisa mengusahakan yang terbaik untuk jawaban semua itu. Bahkan saya yakin dari semua kritik dan masukan itu, Vint8 bisa survive sampai 2 tahun seperti sekarang.
Berfilosofi sedikit tentang desain iseng di atas, sedikit banyak saya curhat lho disitu. Pertama, saya buat 8 lingkaran berjajar horizontal, yang menggambarkan jumlah brand dalam Vint8. Kemudian, saya tarik sebanyak 12 lingkaran vertikal ke bawah, sebagai pertanda jumlah lembar kalender di meja kerja. Pencerminan kuantitas engagement Vint8 dengan buyer yang tidak pernah absen 1 stream pun, pada akhirnya membentuk angka “2”. Angka ini diterjemahkan sebagai 2 tahun, 2 stream, atau bahkan simbolisasi antara 2 pihak: Vint8 dan buyer tercinta.
Kompetisi dengan clothing tetangga sesama pegiat pre-order pun dengan senang hati kami ikuti. Tidak hanya bersaing sejajar, satu langkah di depan mereka pun menjadi keharusan. Inovasi-inovasi kami hadirkan; seperti menggunakan tema desain yang bervariasi, washed out print style, size chart, rewards di beberapa periode dll. Kenapa harus sok-sokan out of pattern nggak mau ikutan yang lain? Actually we bring it all for your satisfaction, trust us then we’ll paid two or more .
At least, selama pengerjaan desain ini, yang terbang di depan jidat saya hanya lingkaran-lingkaran kecil itu. Juga antusiasme dan resolusi setelah Vint8 genap 2 tahun pada bulan Juli tahun ini. Tidak ada sesuatu yang diharapkan muluk-muluk selain engagement yang semakin kuat tadi.
Satu kalimat dari Robert Gately yang selalu kami ingat, “People expect good service but few are willing to give it”. Boleh dong kami selalu berkomitmen untuk menjadi yang terbaik, layaknya ABG yang baru jadian. Doakan ya biar Vint8 bisa jadi pacar kamu yang hebat, hehehe.
Ilustrasi Kecil Sebuah Industri Kecil
Melihat kondisi perekonomian di Indonesia saat ini, sebuah industri kecil lokal dapat sangat membantu lho. Membantu memberikan contribution to society. Serius, no biggies. Salah satu indutri yang mengemban amanah ini adalah industri kaos/clothing. Jika dilihat sepintas mungkin nampak sepele. Tapi coba kita tengok siapa saja yang terlibat di dalam industri ini :
- KAIN : petani kapas – industri tekstil – toko kain – tukang jahit
- SABLON : industri obat sablon – toko alat/bahan sablon – tukang sablon
- PACKAGING : industri kertas – toko kertas – percetakan
- TRANSAKSI : bank
- PENGIRIMAN : jasa expedisi
- PENJUALAN : reseller/toko kaos
Secara garis besar, komponen-komponen itulah yang terdapat di dalam mata rantai industri kaos/clothing. Bayangkan saja jika semua komponen tersebut adalah industri/usaha dalam negeri. Kemudian bayangkan jika ada ribuan bahkan jutaan bahkan ratusan juta industri-industri kecil yang tumbuh di dalam negeri. Bersama indutri dengan bidang yang berbeda, kita saling mengisi, saling melengkapi, demi jalannya sebuah mata rantai industri, demi lancarnya roda perekonomian.
Jika kami yang tukang kaos ini butuh sepatu, kami akan beli dari pembuat/penjual sepatu dalam negeri.
Jika kami yang tukang kaos ini butuh jeans, kami akan beli dari pembuat/penjual jeans dalam negeri.
Jika kami yang tukang kaos ini butuh TV, kami akan beli dari pembuat/penjual TV dalam negeri.
Jika kami yang tukang kaos ini butuh jasa pengiriman, kami akan pakai jasa pengiriman dalam negeri.
Bayangkan jika ini terjadi, semua barang yang kamu punya, mayoritas berlabel MADE IN INDONESIA.
Mungkin butuh bahkan puluhan tahun untuk merealisasikannya, tapi kenapa tidak dari sekarang?
Jika memang tidak berkapasitas untuk menjadi produsen, kenapa tidak menjadi konsumen?
Bukankah kita semua lelah mengonsumsi produk luar? Atau hanya kami saja? Ngga kan?
“You may say i’m a dreamer, but i’m not the only one. I hope some day you’ll join us.”
- John Lennon
Sedikit ilustrasi yang semoga dapat meningkatkan kepedulian kita terhadap kemajuan bangsa.
Hanya dari kacamata kami sang pelaku industri kecil, yang notabene tidak memiliki integritas akademis.
Tapi setidaknya, kami menorehkan “MADE IN INDONESIA” pada tiap produk kami yang sederhana ini.




